Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

The Broken Journey (Part 5)

Lanjutan cerita dari Sekar (@sekartajirolu) di blog sekartajiblog.blogspot.com.

Sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya di bawah ini:
Part 1: Kesialan Ini Tanggung Jawabkusiluetsorehari.blogspot.com
Part 2: Maafkan aku, Dikmillarossa.blogspot.com
Part 3: Kami Ingin Pulangsweetwinterclo.blogspot.com
Part 4: Aku Takutsekartajiblog.blogspot.com

***

Part 5: Mencari Sekar

Macan terkutuk itu sudah hilang. Masalahnya, Sekar ikut hilang.

Kami berempat—aku, Hanif, Mega, dan Mila—mencoba mencari Sekar di sekitar tenda. Oke, mungkin lebih tepatnya bertiga, karena Mila tidak sanggup berdiri, kakinya bengkak dan membiru. Dia menangis sambil memanggil-manggil nama adiknya. Namun, anggota termuda di kelompok kami itu tetap tidak ditemukan. Sekar menghilang seolah ditelan bumi. Atau macan.

Huft.

Situasi sulit ini membuat kesabaranku habis. Aku mendatangi Hanif. Kali ini, ia tidak bisa menghalangi aku lagi. "Kak, aku akan pergi mencari Sekar."

"Sendirian? Nggak!" Sahut Hanif. Masih saja keras kepala. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa juga denganmu? Kita cari bersama-sama."

"Tapi, Mila nggak bisa jalan!" Seruku keras.

Mila mulai menangis lagi. "Adikku..." Ujarnya terisak-isak sambil berusaha bangun. "Aw, kakiku!" Pekiknya. Aku tidak tega melihat Mila. Setelah terancam kehilangan kaki, dia juga harus kehilangan adik.

Aku mengusap wajahku. "Kak, ada macan yang berkeliaran di luar sana. Dan Sekar sendirian. Kita harus segera mencarinya!"

"Macan itu sudah pergi!" Sergah Hanif. Lalu, di kejauhan terdengar suara geraman macan.

Kami berempat terdiam.

"Benar kata Rama, sebaiknya kita segera mencari Sekar," usul Mega.

Hanif menggaruk kepalanya. "Oke, kita segera mencari Sekar. Tapi kamu nggak boleh pergi sendiri, Rama. Aku ikut." Ujarnya.

"Lalu, siapa yang menjaga mereka?" Tanyaku sambil menunjuk Mega dan Mila. Hanif menghela napas. Lantas, ide itu muncul begitu saja. "Bagaimana kalau Mega ikut denganku?"

Hanif terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah," ujarnya. Giliran Mega yang menghela napas.

Dan begitulah. Malam berlalu cepat. Dini hari yang dingin, sementara Hanif menjaga Mila, aku dan Mega berjalan menembus hutan untuk mencari Sekar. Udara dingin membuat hidungku terasa basah. Saat menghembuskan napas, aku seperti sedang merokok. Dengan bantuan senter dan sebatang kayu, aku berjalan melewati ranting-ranting dan daun-daun kering. Tetap waspada, karena bisa saja di sana ada ular. Mega mengikutiku di belakang. Merapat padaku, dan mencengkeram bagian belakang jaketku. Hampir tidak ada jarak di antara kami. Aku bisa mencium wangi parfum stroberinya. Sejak dulu, Mega memang selalu wangi, bahkan sekarang, setelah tiga hari tidak mandi.

Sejenak, aroma stroberi itu membawaku ke masa-masa ketika kami masih pacaran. Dulu, kami pernah sangat dekat, seolah tak terpisahkan. Aku nyaman bersama Mega. Dia yang terindah. Mega jauh lebih baik dari Lia, mantan terakhirku, dan bahkan mantan-mantanku yang lain. Kami putus karena salahku. Aku terlalu cuek, menganggap bahwa Mega tidak akan pergi. Dan ketika Mega betulan pergi, aku baru menyesal.

Namun, sekarang ia ada di belakangku. Cewek yang hampir tiga tahun ini kuharapkan untuk kembali, berada sangat dekat denganku. Sekaranglah saatnya, pikirku. Sebelum aku mati kelaparan, atau dimakan macan.

Sambil terus berjalan, aku mengumpulkan keberanian. Dan saat langit sudah mulai terang, ketika kami duduk di sebuah batu untuk beristirahat, kalimat itu keluar begitu saja. "Mega, aku… aku masih sayang sama kamu."

Mega tertegun. Ia terdiam menatapku. Lantas mulai membuka mulut. "Aku..."

Hening.

"Aku mendengar sesuatu, Ram."

"Ha? Apa?"

"Helikopter!"

Terburu-buru, ia naik ke sebuah batu besar di dekat kami. Benar saja. Tak lama kemudian, sebuah helikopter melintas di atas kami. Mega tengadah dan mulai berteriak-teriak. Di sebelahnya, aku merentangkan tangan lebar-lebar, lalu menggerak-gerakkannya. "TOLONG! TOLONG! WOY!" Teriakku sekencang mungkin.

Namun, helikopter itu malah melaju pergi. Semakin lama semakin menjauh di angkasa. Habis sudah, pikirku. Apa hidup kami memang harus berakhir di sini?

***

Simak kelanjutan ceritanya di falling-eve.blogspot.com oleh Kireina Enno (@kireinaenno).

Waktu dia pergi (Part 2)

Lanjutan dari cerita: Waktu dia pergi (Part 1)

Enam bulan kemudian...

Ara lagi tidur-tiduran di kasur sambil menahan sakit hati. Tiba-tiba ada sebuah SMS yang mampir ke inbox hape-nya.

"Halo Ara, lagi apa? Ini Niki."

Begitu membaca SMS itu, di kepala Ara langsung muncul bayangan wajah Niki yang manis. Ara pun membalas SMS itu dengan semangat empat lima. Setelah SMS-an beberapa kali, Ara jadi tau kalo Niki baru putus dari cowoknya. Sama seperti Ara, cewek itu juga lagi patah hati.

Selama tiga mingguan, Ara rajin SMS-in Niki, kadang dia memberanikan diri untuk telpon. Lama-lama, mereka jadi semakin deket. Sepertinya Niki membuka diri untuk Ara, dia merespon semua usaha Ara dengan baik.

Belajar dari pengalamannya sama Bunga, Ara nggak mau Niki menunggu terlalu lama. Sebulan kemudian, setelah ketemuan satu kali buat nonton, Ara datang ke rumah Niki dengan membawa setangkai mawar putih buat nembak. Dia disambut dengan senyuman manis oleh cewek itu. Ara jadi tambah semangat. Setelah ngobrol sebentar di teras depan, Ara pun nembak Niki. Karena udah punya pengalaman, kali ini Ara ngomongnya lancar, nggak kayak orang gagap lagi, sekarang lebih mirip orang kumur-kumur.

Waktu dia pergi (Part 1)

Kisah ini tentang Anggara atau lebih sering dipanggil Ara, cowok yang udah berabad-abad nggak punya pacar. Padahal dari segi tampang, Ara termasuk lumayanlah, nggak ancur-ancur amat. Ditambah badannya yang tinggi dan putih, dia terlihat keren kayak tiang bendera.

Saat itu, Ara masih kuliah semester satu. Sebagai mahasiswa baru yang masih jomblo, setiap hari dia rajin kuliah dan latihan marching band. Tapi lebih rajin lagi ngeliatin cewek-cewek cantik yang berseliweran di kampus.

Dulu, sebenernya Ara udah sempet punya pacar, sayangnya cuma pacar khayalan. Karena bosen sama "pacar" yang itu, Ara pun mulai nyari pacar beneran. Namun, ternyata nggak segampang yang dia kira. Ada aja hambatannya. Kalo Ara suka sama si cewek, ceweknya yang nggak suka sama dia, begitu juga sebaliknya. Nggak pernah nemu yang sama-sama suka.

Sampai suatu hari, Ara bertemu seorang cewek bernama Niki...

Waktu itu, Ara menghadiri sebuah acara di kampus temennya, Jono. Nah, Jono ngenalin dia sama cewek itu. Niki, cewek mungil, putih, dan manis.

Pas dikenalin, Ara cuma bisa bengong. Demi persahabatan Spongebob dan Patrick, belum pernah dia melihat cewek semanis itu. Ara sampe ngiler. Sayangnya, mungkin memang belom jodoh sama Niki, pertemuan itu lewat gitu aja. Ara pun kembali nyari cewek yang kira-kira mau jadi pacarnya.