Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Prekuel Novel Galaupreneur

Cerita pendek ini merupakan prekuel dari novel komedi saya yang berjudul Galaupreneur. Semoga bisa menghibur, dan selamat membaca...

***

Jadi, begini kisahnya...

Di suatu masa, hiduplah seorang siswi kelas 11, bernama Rena. Anaknya kurus, pendek dan item. Di sekolah, Rena termasuk murid yang biasa aja. Dia payah di pelajaran matematika, dan hampir nggak punya kelebihan, kecuali bakat menggambar.

Pernah, waktu ulangan matematika, saking nggak bisa jawabnya, Rena malah menggambar wajah gurunya di lembar jawaban. Hasilnya, Rena mendapat nilai -1. Iya, dalam pelajaran matematika, Rena bahkan dianggap tidak pantas mendapat nilai 0.

Selain nilainya yang parah, hampir setiap hari, selama setahun setengah bersekolah di SMA, dia nyaris selalu dibully oleh teman-temannya. Sampai suatu ketika, ada seorang siswi baru menyelamatkannya. Seorang cewek manis yang tingkahnya kayak preman, namanya Widi.

Waktu itu, Rena lagi diganggu sama Genk Genma, Gendut Manis. Terdiri dari 3 cewek gembrot tapi merasa manis. Padahal nggak sama sekali. Si ketua genk, nekling kaki Rena sampai jatuh. Lalu dua anggota lainnya menginjak-injak badan Rena, pura-pura nggak tau kalo Rena ada di sana.

14 MAWAR UNTUK ANA

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Kira-kira begitulah potongan dialog di akhir cerita ini. Namun, sayang sekali, ini bukanlah kisah happy ending.

Semuanya berawal dari malam perayaan yang penuh keceriaan dan sukacita, lalu tiba-tiba berubah jadi kekacauan. Bahkan, sebelum satu pun kembang api meledak menghiasi langit malam, sebagian besar penonton berlarian panik tak tentu arah di jalanan, seolah rumah mereka terbakar dan mereka harus segera pulang untuk memadamkannya. Kemudian suara-suara sirine mulai terdengar di kejauhan, semakin lama semakin mendekat.

Aku masih kebingungan dengan perubahan situasi itu ketika, tidak lama, tiga ambulan melintas tepat di sampingku. Melaju kencang bagai sedang balapan, berbelok di tikungan lalu menghilang. Hanya suara sirinenya yang masih terdengar, itu pun pelan-pelan melemah di kejauhan. Sesuatu yang buruk telah terjadi, pikirku. Aku harus mencari Henry, pikirku lagi.

Filosofi Kopi Sachet

Kisah ini adalah sekuel dari film Filosofi Kopi dari karya Dewi Lestari, yang saya buat sendiri untuk mengobati kerinduan terhadap tokoh-tokohnya dan apa yang mereka alami selanjutnya. Semoga suka. Terima kasih, dan selamat membaca.

*** 

Tiga tahun setelah kafe kami dijual, dan Filosofi Kopi pindah ke bus bertingkat dua, kami sudah berkeliling Indonesia–Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan lain-lain–untuk menjajakan kopi. Di luar dugaan, usaha kami berjalan lumayan baik. Setidaknya, aku bisa menabung, Ben bisa bertemu banyak penggemar baru, dan pegawai-pegawai kami bisa hidup lumayan sejahtera. Namun, rasanya semua masih bisa lebih baik lagi.

Aku masih belum puas.

Apa lagi, setelah suatu hari, aku bertemu seorang pengusaha yang menawariku sebuah mesin pencetak kopi sachet.

Ketika kutemui saat makan siang di sebuah restoran, dengan menggebu-gebu si pengusaha mengatakan. “Jika anda punya mesin ini, anda sudah pasti akan menghasilkan lebih banyak uang. Karena dalam satu jam, mesin ini bisa mencetak lebih dari tiga ribu sachet. Dan coba bayangkan jika Filosofi Kopi bertransformasi ke dalam bentuk sachet, dan penjualannya bisa menyebar ke berbagai daerah, bahkan luar negeri. Anda bisa go internasional, Pak Jody!” Tuturnya bersemangat. “Jika anda berjualan dengan menggunakan mobil, jelas anda tidak akan bisa melakukan itu.” Tandasnya tajam, dan membuatku berpikir lama.

Selepas pertemuan itu, aku terus memikirkan penawaran tersebut, dan menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan si pengusaha memang ada benarnya. Kopi sachet memiliki cakupan yang lebih luas, ditambah biaya distribusi yang lebih kecil. Dari segi itu saja, keuntungan yang bisa kudapat akan jauh lebih besar. Seharusnya, sejak dulu aku mengembangkan bisnis dalam bentuk kopi sachet.

Keesokan harinya, sambil berkeliling dengan bus–menjajakan kopi di dekat Tugu Monas, aku menceritakan semuanya kepada Ben.

Metafora Tiwi

Cerpen ini adalah cerpen duet saya dengan salah satu teman menulis, Billa dari grup CircleWriters di LINE. Awalnya saya sedang menjadi silent reader di grup itu, yang seingat saya, waktu itu, sedang membahas bahwa grup sedang sepi atau semacamnya. Lalu, saya berinisiatif untuk membuat ramai dengan main cerita bersambung. Jadi, saya menulis kalimat pembuka cerpen ini, yaitu: "Pada suatu masa di Kota Jakarta, hiduplah seorang cewek bernama Tiwi. Dia punya cita-cita ingin jadi penulis. Dan memiliki sebuah karya yang mengesakan."

Saya pun menunggu.

Dari 60-an orang yang ada di grup itu, Billa merespon dengan baik ajakan untuk menulis bareng ini, dia menambahkan satu kalimat: "Tetapi takdir berkata lain." Lalu saya menambah satu kalimat lagi, setelah itu Billa lagi. Begitu terus sampai cerpen ini selesai. Memang pada akhirnya, kami tidak hanya saling menambahkan satu kalimat, karena lama-lama—entah karena kami terlalu bersemangat, sekali mendapat giliran, saya dan Billa bisa menulis satu sampai dua paragraf. Dan kami pun menyelesaikan cerpen ini hanya dalam waktu beberapa jam. Dari siang hingga sore.

Bagi saya, rasanya menyenangkan sekali bisa menulis secara duet seperti ini. Dan saya berharap, semoga kamu juga bisa menikmati cerita ini. Selamat membaca!

Bayu dan Ayas

Seharusnya dia sudah datang, itu yang dipikirkan Ayas tiga puluh menit terakhir. Cewek itu sedang duduk di sebuah kafe. Sendirian. Dan telah lewat setengah jam dari waktu yang mereka janjikan. Namun, Bayu—pacarnya—tidak kunjung muncul di kafe itu.

Tatapan Ayas nyaris tak pernah teralih dari pintu masuk kafe, memandangi orang-orang yang masuk ke dalam. Berharap Bayu akan muncul di sana, lalu membawanya pergi. Mereka sudah berjanji akan minggat dari rumah, jika orang tua Bayu tetap tidak merestui hubungan mereka.

Waktu terus berlalu, namun tidak ada tanda-tanda Bayu akan datang. Setiap kali ada sosok cowok tinggi dengan rambut pendek rapi, Ayas akan mengira bahwa itu Bayu. Dan dia akan kecewa, karena ternyata bukan. Ayas pun mulai gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya. Kenapa Bayu tidak datang-datang? Apa Bayu berubah pikiran? Tapi kenapa tidak ada kabar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Ayas sudah berusaha menghubungi Bayu, namun teleponnya tidak diangkat dan SMS-nya tidak dibalas. Setelah itu, berkali-kali Ayas menghela napas, namun perasaannya tidak kunjung membaik.

Mencari Rana yang minggat dari rumah

Pada hari minggu pagi, Widi sedang menikmati nyamannya kasur dan selimut yang hangat, saat mendengar kabar bahwa sahabatnya—Rana, kabur dari rumah, dan kemungkinan besar akan bunuh diri.

Kabar itu langsung didapatnya dari orang tua Rana, yang menelepon Widi pagi-pagi sekali, tepat ketika dia sedang berciuman dengan Justin Bieber di dalam mimpinya.

Hal itu lumayan membuatnya kesal, namun hanya sebentar, karena Widi langsung mengkhawatirkan sahabatnya itu. Masalahnya, bukan kali ini saja Rana pernah mencoba untuk bunuh diri. Dulu, dia pernah kejang-kejang karena menenggak obat sakit kepala dan minuman beralkohol secara bersamaan, hanya karena anggota boyband kesayangannya, si Zayn Malik keluar dari One Direction. Waktu itu, Widi tidak habis pikir, bagaimana mungkin Rana mau bunuh diri hanya karena seorang cowok brewokan yang memutuskan keluar dari sebuah boyband. Nggak penting banget, pikirnya. Widi bahkan tidak bisa membedakan tampang Zayn Malik dengan Ridho Rhoma, kecuali mereka membuka baju. Karena salah satunya memiliki bulu dada selebat Hutan Amazon.

Bagaimana pun, itu hal paling bodoh yang pernah Widi dengar. Dia memang tidak pernah peduli dengan artis-artis luar negeri. Kecuali satu kali, ketika Justin Bieber putus dengan Selena Gomez, dia merayakannya dengan menraktir teman-teman satu kelas.

Setelah menerima telepon dari orang tua Rana, Widi duduk di kasurnya sambil merenung. Tadi, orang tua Rana mengatakan bahwa anaknya yang cengeng itu meninggalkan surat yang berisi sebuah kalimat petunjuk.

"Sebelum semua terlambat, carilah aku di tempat bertemunya daratan dan lautan."

Nina Van Goblok

Di sebuah SMA negeri di Denpasar, hiduplah seorang murid cewek bernama Nina.

Sepanjang dua tahun terakhir masa-masa SMA-nya, Nina sudah dua kali nyaris nggak naik kelas. Soalnya setiap hari, Nina jarang belajar, kerjaannya cuma main. Nilai-nilainya pun hampir selalu pas-pasan.

Dan kalo ada siaran bola, dia bakal begadang sampai pagi. Apa lagi, kalo yang main MU, Nina pasti nonton. Karena dia suka banget sama Robin Van Persie. Dia bahkan mengubah namanya sendiri jadi Nina Van Persie. Hanya saja, karena nilai-nilai Nina selalu hancur, dia malah dipanggil Nina Van Goblok.

Saat akhirnya Nina kelas 3 SMA, dia memutuskan untuk belajar lebih rajin. Terutama pelajaran hitung-hitungan. Soalnya ujian nasional sudah dekat. Setelah belajar mati-matian, sejauh ini nilai tertinggi pelajaran hitung-hitungan Nina adalah 0,5. Itu juga karena ongkos nulis.

Nina sudah mencoba belajar sendiri, tapi gagal. Dia sudah nyoba minta diajarin temannya, si Doni, dan temannya itu jadi gila. Dulu, Nina juga pernah nyoba les, dengan harapan nilainya membaik. Tapi guru lesnya masuk rumah sakit jiwa.

Ketika si mungil menghilang

Dua tahun sebelum bertemu dengan pacarnya—Marisa, dan akhirnya menikah, Juna sempat naksir setengah mati pada seorang cewek mungil yang dia temui di toko buku dekat rumahnya. Entah apa yang membuat cewek mungil itu begitu menarik bagi Juna, namun setiap kali melihat cewek itu, matanya seolah nggak kuasa memandang objek lain selain si mungil itu.

Semuanya dimulai ketika Juna masih seorang jomblo ngenes di awal-awal semester satu kuliahnya, dan dia memilih melewati hampir setiap malam minggu di toko buku, melihat buku-buku baru yang bisa dibeli untuk dibaca pada waktu libur kuliah. Juna memang lebih memilih membaca daripada nongkrong dengan teman-temannya di rental Playstation atau di pinggir jalan sambil goda-godain cewek lewat.

Kebiasaan itu terus berlanjut selama beberapa bulan. Dan semuanya berjalan baik-baik saja—bahkan cendrung datar—sampai suatu malam minggu, Juna melihat si cewek mungil itu, dan dibuat jatuh cinta dengan begitu dahsyat pada pandangan pertama.

Juna nggak akan pernah melupakan saat pertama kali menemukan si mungil, wajah cewek itu tirus dengan kulit putih bercahaya, alis yang rimbun, rambut hitam dan terlihat sehalus sutra. Mungkin cewek itu setahun atau dua tahun lebih muda dari Juna, mungkin masih SMA. Entahlah. Waktu itu, Juna malah menatap langit-langit toko, memastikan bahwa keadaannya baik dan nggak ada sesuatu yang telah jatuh melaluinya. Dia curiga, si mungil itu mungkin saja bidadari yang sedang mengunjungi bumi.

Cinta, aku rapopo

Seminggu sebelum bertemu dengan cewek dekil itu, Rangga sedang mengalami patah hati, mantan pacarnya lebih memilih bersama cowok yang lebih kaya. Hampir setiap hari Rangga hanya mendekam di kamar, meratapi kepergian mantan terkutuknya itu.

Dulu, Rangga dikenal sebagai cowok yang lumayan ganteng. Tinggi, putih dan wangi. Namun, semenjak putus cinta, dia jadi mirip Spongebob frustasi. Kulitnya pucat seperti vampire, tidak berkuris, dan jarang mandi.

Sampai suatu saat, dia memutuskan untuk kembali menjalani hidup, tidak sudi lagi terpuruk hanya karena ditinggal cewek. Rangga kembali mandi tiga kali sehari, olah raga dan mulai menyibukkan diri dengan kuliahnya yang tak lulus-lulus. Kalau ada waktu luang, dia turun gunung. Jalan-jalan dan makan-makan di berbagai tempat, berusaha menikmati masa-masa jomblonya yang mengenaskan.

Hari itu, sepulang kuliah, Rangga nongkrong di salah satu restoran pinggir pantai yang terletak di kawasan Nusa Dua. Pemandangan laut yang biru, dan aroma segar pantai yang berpadu dengan wangi asap ikan bakar, membuat suasana hati Rangga jadi membaik.

Rangga mulai mengamati sekeliling. Hampir semua orang yang ada di ruangan itu sedang bersama pasangannya masing-masing. Hanya ada dua orang yang duduk sendirian, dirinya sendiri dan seorang cewek dekil yang sedang duduk di pojokan.