Setelah sekian lama tidak pernah mendengar kabarnya, secara
mengejutkan, Ina–mantan calon gebetanku–nge-add aku lagi di BBM.
Aku pun meng-accept dengan baik
permintaan itu, meskipun tidak tau maksud si Ina kali ini apa. Seingatku,
terakhir kali, aku yang men-delete kontaknya dari BBM dan hubungan kami sudah
berakhir. End.
Penasaran, malamnya aku pun mengirim sebuah BBM ke Ina. "Hai orang
asing," sapaku. Saking lamanya nggak pernah BBM-an, aku memang merasa
seperti orang asing sama Ina. Atau memang sejak awal perasaan itu sudah muncul?
Entahlah..
Lama tidak ada jawaban. Baru pagi harinya, pas bangun tidur, aku melihat ada
sebuah BBM yang masuk. "Hai
past," begitu balasan dari Ina.
Aku mengerutkan kening. Past? Masa lalu? Kalo aku masa lalu, kenapa harus
nge-add aku lagi di BBM? Namun saat itu, aku tidak membalas BBM dari Ina.
Hari-hari pun berlalu, aku sibuk dengan kerjaan di rumah dan kebetulan aku juga
mulai ikut pelatihan fotografi (kebetulan ada yang gratis). Tapi tiap ngecek
BB, aku selalu dibuat penasaran dengan keberadaan Ina di kontak BBM-ku.
Akhirnya, pas lagi nggak sibuk, aku kembali mengirim BBM ke Ina. "Na,
besok ada waktu nggak? Ketemu yuk, pengin ngobrol-ngobrol."
"Iya, liat besok aja," begitu kira-kira jawaban dari Ina.
Besoknya, kami janjian buat makan di sebuah kafe yang letaknya nggak terlalu
jauh dari rumahku. Dan sama
seperti pertemuan pertamaku dengan Ina, ada saja hal-hal menggelisahkan yang
terjadi.
"Kak, ditunggu di sekolah aja ya, Ina lagi nganter Vica bikin KTP,"
begitu jawabannya. Vica adalah temennya Ina, kayaknya, aku juga belom pernah
ketemu.
Begitu menerima BBM itu, aku langsung siap-siap. Mandi dengan sabun yang dua
kali lebih banyak, nyetrika baju dengan pewangi yang maksimal, dan menyemprot
parfum beberapa kali lebih banyak dari biasanya. Selesai bersiap-siap, aku langsung meluncur ke sekolahnya Ina, nggak lupa bawa
helm cadangan buat jaga-jaga.
Sampai di sekolah, aku mengirim BBM ke Ina. "Na, udah di depan sekolah
nih.. Ina di mana?"
"Ina di depannya kakak," sahutnya.
Aku menatap ke depan. Di depanku, ada dua orang cewek
yang sedang duduk di atas motor membelakangiku. Kemudian cewek yang dibonceng
menoleh ke belakang–ke
arahku. Ternyata beneran itu Ina.
"Ina sama Vica, Kak," kata Ina lagi.
Aku cuma mengangguk saja sambil tersenyum. Dalam pikiranku, sebenernya aku
berharap bisa makan berdua saja sama Ina. Tapi nggak apa-apa sih, mengingat
hubungan kami memang sempat terputus, mungkin Ina pengin ada yang menemani. Mungkin dia takut, padahal
nggak ada yang perlu ditakuti, aku benar-benar bermaksud baik.
Kami pun berangkat, aku naik motor sendirian, Ina dan Vica mengikuti dari
belakaang.
Sampai di kafe tujuan, kami duduk di salah satu pojok kafe–deket pepohonan. Tidak
lama, pelayan datang untuk menanyakan pesanan kami.
"Mau pesan apa?" Tanya ibu pelayan dengan sangat sopan.
Ina menyebutkan nama salah satu makanan di daftar menu. Entah kenapa, ada yang aneh dengan cara Ina berbicara pada ibu-ibu pelayan itu. Nada suaranya khas
anak ababil, tapi terkesan nyolot dan tidak sopan sama orang yang lebih tua.
Dengan halus ibu pelayan itu menjawab. "Kalo yang itu sudah habis, mau pesan
yang lain?" Sahut ibu pelayan sambil menyebutkan salah satu menu makanan
lain.
"Nggak, nggak," sahut Ina dengan nada suara yang sama nyolotnya.
Dan sepertinya ibu pelayan itu tersinggung, lalu meletakkan kertas untuk
mencatat menu makanan di atas meja. "Nanti tulis sendiri aja ya,"
ujar ibu pelayan itu. Lalu pergi.
Setelah ibu-ibu pelayan itu pergi, Ina masih saja menggerutu nggak jelas. Aku
cuma tersenyum. Nak, kamu masih kecil, hormatlah sedikit sama yang lebih tua, bisikku
dalam hati. Tapi sudahlah, memangnya aku bapaknya Ina apa, pake ngajarin sopan
santun segala? Jadi aku cuma diam saja.
Sama seperti pertemuan pertamaku dengan Ina, suasananya sangat canggung. Bahkan
pertemuan kedua ini lebih parah, Ina malah lebih asyik ngerumpi sama Vica. Vica anaknya putih, rambutnya hitam agak bergelombang dan giginya dipagarin gitu. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Vica.
Dan yang bikin tambah nggak nyaman, di tempatku duduk ternyata banyak nyamuk. Iya,
nyamuk-nyamuk itu menggigiti kulitku di bagian-bagian yang tidak tertutup pakaian.
Parah...
Saat makanan datang, Ina masih tetap konsisten ngerumpi sambil makan sama Vica. Hanya sesekali saja beliau mengajakku bicara, itu juga menanyakan sesuatu yang
tidak penting. Seperti:
"Kok jalan masuk ke kafe-nya kecil banget, kak? Kalo bawa mobil gimana
dong?"
Yaelah, nggak penting banget pertanyaannya. Udah tau jalannya kecil, ya
jelaslah nggak cukup buat mobil. Maksudnya apa coba nanya gitu?
Ina pun kembali asyik ngobrol dengan Vica. Semakin lama, aku mulai menyadari
kalo yang Ina dan Vica omongin tujuannya cuma satu, yaitu memojokkanku. Tapi
aku berusaha berpikir positif, nggak mungkinlah mereka sejahat itu.
Ina dan Vica mulai nanya-nanya lagi. Entah kenapa omongan mereka semakin lama semakin
menusuk-nusuk hati. Ada apa dengan kedua cewek ini? Apa mereka sengaja bekerja
sama untuk mempermalukanku?
Sampai puncaknya, Ina mengeluarkan pernyataan yang benar-benar merendahkan.
Kira-kira begini: "Jadi, Kak Rama kan kuliahnya hukum, emang nggak cocok
dibidang lain... paling-paling cocoknya jadi SATPAM." Ujar Ina lalu tertawa
bersama Vica. Aku cuma tersenyum kecut.
Vica nyeletuk. "Ih, jahat deh kamu, Na." Ujarnya, lalu lanjut tertawa.
Aku tidak berusaha untuk membalas. Waktu itu, aku berpikir. Pertama, nggak
perlu sekolah tinggi-tinggi kali buat jadi satpam. Nanti Ina juga kalo lulus
SMA bisa langsung ngelamar jadi satpam. Kedua, kalo pun aku memilih jadi
satpam, terus kenapa? Masalah buat lu?
Dan aku baru nyadar, ternyata dari tadi Ina dan Vica memang bersekongkol untuk
merendahkanku.
Aku pun pengin buru-buru
menyudahi makan siang terkutuk ini.
Saat pelayan datang membawa tagihan, aku membayar semua makanan yang ada di
atas meja. Iya, termasuk makanan yang dipesan Ina dan Vica. Aku memang pengin
nraktir mereka sebagai ucapan terima kasih karena sudah dibuat lebih kenyang
oleh sindiran merendahkan mereka daripada oleh makanan yang kupesan.
Saat itu, Ina dan Vica sama-sama ngeluarin dompet, sepertinya mereka mau
mengembalikan uangku tadi.
"Udah, nggak usah dibalikin." Ujarku sambil tersenyum. Tentunya
senyum maksa.
"Kita kan nggak enak, Kak." Sahut Ina.
"Enak-enakin aja." Potongku. Tadi nyindir aja enak, masa sekarang
ditraktir nggak enak? Errr..
"Makasi ya, Kak." Sahutnya.
"Sama-sama." Sahutku sambil tersenyum (maksa). Makasi juga untuk kata-kata
yang menusuk hati tadi, lanjutku dalam hati.
Tidak lama, Ina dan Vica pun pulang duluan. Aku masih termenung di parkiran,
berusaha menenangkan diri. Setelah cukup tenang, aku mengendarai motorku keluar
dari kafe.
Dan siang itu, aku pulang dengan perasaan terhina...
Sampai di rumah, aku kembali mengecek kontak di BBM-ku, nama Ina sudah tidak
ada, dia men-delete-ku dari kontak BBM-nya. Dan rasa penasaranku pun terjawab,
rupanya Ina nge-add aku di BBM hanya untuk menusuk-nusuk hatiku...
Dasar ababil psikopat... -___-
sabar ya kakaak
BalasHapusmungkin mereka yg pengen jadi satpam -_-
Hehehe.. Mungkin.. :p
Hapushahaha kak Rama semangat, ya. masih banyak kok pilihan yang lain :D
BalasHapusIya, masih banyak pilihan selain ababil psikopat.. :D
HapusEmang anak hukum jd satpam? Temenku kok malah jd pengacara and ada jg yg jaksa? Lagian so what gitu jd satpam? Masalah gitu buat mereka?
BalasHapusAbabil banget sih mantanmu -_-! Ckckck
Jugaan km mantannya kan? Lelaki yg pernah singgah dihatinya...
Sabar ya, lupakan mantan ababil itu, jadikan kenangan "lucu" aja, kalo km pernah pnya mantan ababil hahahahahaha
Bukan mantan sih... Tapi "mantan-calon-gebetan".. Hakhakhak...
HapusEntah kenapa gue ngakak bacanya. maaf yah ram, btw salam kenal dan blog walking. hahaha semangat semangat!! masih banyak ikan dilautan.. tapi banyak juga deng yang mancing wakak #ditendang
BalasHapusGemes banget bacanyaa, pengen tak pites! Hahaha. Pasti mereka anggota perhimpunan cabe-cabean indonesia deh, makanya kayak gitu kelakuannya ckckck
BalasHapus